Reification Fallacy
menganggap konsep abstrak seolah-olah benda nyata yang bisa bertindak
Pernahkah kita memaki-maki "algoritma" media sosial karena terus-terusan menyembunyikan konten yang kita suka? Atau mungkin, saat hujan turun deras di hari libur yang sudah direncanakan matang-matang, kita mengeluh bahwa "semesta" sedang berkomplot menggagalkan kebahagiaan kita? Saya sering melakukannya. Teman-teman mungkin juga begitu. Kita sering bicara seolah-olah algoritma itu sesosok manajer galak di balik layar, dan semesta adalah sutradara sinetron yang hobi memberi plot twist. Terdengar lucu, ya. Tapi tanpa kita sadari, kebiasaan ngedumel sehari-hari ini sebenarnya mengantarkan kita pada sebuah rahasia gelap tentang bagaimana otak manusia bekerja. Sebuah kebiasaan pikiran yang, kalau kita tidak hati-hati, bisa membuat kita merasa tak berdaya menghadapi realitas hidup.
Mari kita mundur sedikit ke puluhan ribu tahun yang lalu. Nenek moyang kita bisa bertahan hidup di alam liar karena mereka punya satu kemampuan canggih: mendeteksi agen, atau mendeteksi sosok pelaku. Kalau ada semak-semak bergoyang di kejauhan, lebih aman bagi otak mereka untuk menganggap itu adalah harimau yang sedang mengendap-endap daripada sekadar angin lalu. Otak kita berevolusi untuk selalu melihat niat di balik segala sesuatu yang bergerak atau berubah. Makanya, sangat masuk akal ketika manusia purba mulai memuja "Dewa Petir" atau memberi sesajen pada "Roh Hutan". Memberi sifat manusia pada fenomena yang bukan manusia membuat dunia yang menakutkan ini terasa lebih bisa dikomunikasikan. Masalahnya muncul ketika kita membawa perangkat keras otak zaman batu ini ke era modern. Kita mungkin sudah berhenti menyembah pohon besar, tapi percayalah, kita terus menciptakan "dewa-dewa" baru. Dan dewa-dewa modern ini bersembunyi dengan sangat rapi di balik kata-kata yang kita baca dan ucapkan setiap hari.
Coba perhatikan berita hari ini. Kita sangat terbiasa mendengar atau membaca kalimat seperti, "Pasar sedang gelisah," atau "Masyarakat menuntut keadilan." Pernahkah teman-teman berpikir, di mana sebenarnya alamat si "Masyarakat" ini? Kalau kita mau mengirim surat komplain ke "Pasar", butuh prangko berapa dan ditujukan ke kode pos mana? Tentu saja pertanyaan ini terdengar absurd. "Pasar" dan "Masyarakat" itu tidak punya otak, apalagi perasaan. Mereka cuma kumpulan triliunan interaksi rumit antarmanusia yang terjadi setiap detik.
Tapi mari kita bawa ini ke ranah yang lebih personal dan berbahaya. Dalam psikologi pop, kita sering mendengar seseorang berkata, "Depresi mencuri tahun-tahun terbaik saya," atau "Kecerdasan dia memang rendah, makanya nasibnya buruk." Tiba-tiba, sebuah label diagnostik dan skor tes di atas kertas berubah menjadi monster tak kasat mata yang mencekik nasib kita. Bagaimana bisa sebuah konsep abstrak, yang murni merupakan hasil karangan manusia untuk memudahkan komunikasi, tiba-tiba bangkit dari kubur dan berbalik menyandera penciptanya sendiri?
Selamat datang di sebuah jebakan logika yang oleh para ilmuwan dan filsuf disebut sebagai Reification Fallacy, atau kesesatan reifikasi. Kata reifikasi berakar dari bahasa Latin res, yang berarti benda. Kesesatan ini terjadi ketika kita mengambil sebuah konsep yang sangat abstrak—seperti ide, proses, atau pola perilaku—lalu memperlakukannya seolah-olah ia adalah entitas fisik yang nyata, hidup, dan punya kemauan sendiri.
Bahasa menipu otak kita. Hanya karena kita punya satu kata benda untuk merangkum sesuatu (seperti "Ekonomi", "Sistem", atau "Kecerdasan"), otak kita yang selalu haus akan cerita langsung berasumsi bahwa hal tersebut punya wujud. Secara sains, ini disebut sebagai fallacy of misplaced concreteness. Bahayanya sangat nyata bagi kesejahteraan mental kita. Ketika kita menganggap "Kecemasan" sebagai monster sungguhan yang rutin menyerang kita di malam hari, kita akan merasa kalah sebelum bertanding. Kita merasa sedang melawan kekuatan gaib. Padahal, secara medis, kecemasan adalah serangkaian respons biologis kompleks dari sistem saraf, hormon, dan lingkungan alam sadar kita. Ia adalah sebuah proses, bukan sebuah benda. Saat kita melakukan reifikasi, kita menyerahkan kendali diri kita kepada hantu yang kita ciptakan sendiri.
Saya tahu, rasanya wajar sekali kita terpeleset ke dalam jebakan mental ini. Kita semua manusia, dan manusia adalah primata pencerita yang sangat mencintai metafora. Namun, menyadari keberadaan Reification Fallacy ini ibarat menyalakan lampu sakelar di ruangan yang gelap. Tiba-tiba, bayangan monster menakutkan di sudut kamar itu kembali menjadi tumpukan baju di atas kursi.
Teman-teman, mari kita mulai melatih kejernihan pikiran kita bersama-sama. Lain kali kita merasa ditekan oleh "Sistem", dihakimi oleh "Ekspektasi Sosial", atau dikalahkan oleh "Nasib", tarik napas sejenak. Ingatkan diri kita bahwa "Sistem" dan "Nasib" itu tidak ada wujudnya. Mereka hanyalah kumpulan aturan, kebiasaan, dan serangkaian peristiwa acak yang sepenuhnya bisa kita urai, kita pelajari, dan kita ubah secara bertahap. Jangan biarkan kata-kata abstrak yang diciptakan oleh manusia malah menjadi penjara bagi pikiran kita. Karena pada akhirnya, kitalah yang bernapas, kitalah yang melangkah, dan kitalah satu-satunya makhluk nyata yang memegang kemudi atas cerita hidup kita sendiri.